1.5M ratings
277k ratings

See, that’s what the app is perfect for.

Sounds perfect Wahhhh, I don’t wanna
urfa-qurrota-ainy

‘How To’ Accept Negative Emotions

urfa-qurrota-ainy

semua gambar yang disertakan di sini ditemukan dari Google, cuplikan dari film Inside Out (2015). Credit to Disney. Ini karena film Inside Out bagus banget untuk menggambarkan penerimaan terhadap emosi negatif

Beberapa hari kemarin, saya ngepost tulisan berjudul Negative Vibes yang terbagi menjadi bagian satu dan bagian dua saking panjangnya. Terus terang, nulisnya ngga pake outline atau rencana, tau-tau sebanyak itu. Karena merasa tulisannya udah kepanjangan, yaudin jadinya kemarin menyetop jari sendiri. Lalu dipikir-pikir, kayaknya walaupun udah panjang-panjang tetep masih kurang deh. Haha. Yauds lah ya, ini kan blog pribadi. Tulisan ini bisa disebut sebagai bagian ketiganya. Mungkin nanti bakal ada lanjutan-lanjutannya, semacam tulisan yang terkait satu sama lain.

Oke, jadi, sebenarnya yang saya tuliskan di bawah sudah saya sisipkan juga di tulisan Negative Vibes, tetapi, ini versi panjangnya aja. Karena, ada beberapa pertanyaan bernada, “Bagaimana cara menerima negative vibes dalam diri kita?”

Saya paham betapa sulitnya memulai sesuatu, betapa kakunya untuk mengubah suatu kebiasaan yang sudah lama mendarah daging. Saya juga masih belajar untuk menerima negative vibes yang saya alami.

Dari sedikit pengalaman ini, saya merasa ada tiga hal penting yang harus dilakukan saat kita berusaha menerima negative vibes, atau dalam konteks ini, lebih spesifiknya adalah menerima negative emotion yang kita alami.

1. Call its name

Lima emosi dasar manusia: Senang, sedih, takut, marah, dan jijik

Kenali emosi yang mengisi hati kita. Ada banyak sekali jenis emosi, tapi emosi dasar ada lima: senang, sedih, marah, jijik, dan takut. Emosi lainnya tentu masih ada, misalnya emosi tenang, murka, stres, merasa bersalah, malu, kaget, tertarik, cinta, benci, kagum, kasihan, dan lain-lain. Bahkan, dalam sebuah studi di University of California, C Berkeley terungkapkan bahwa ada 27 jenis emosi yang berbeda-beda yang bisa kita alami.. Kadang bedanya tipis sih, jadi mungkin susah juga ngebedainnya.

Terbatasnya kosakata yang biasa kita pakai untuk mengungkapkan perasaaan kita juga bisa bikin kita bingung membedakannya. Misalnya, antara sadness dan grief. Kalau diterjemahkan secara sederhana, keduanya berarti “Sedih.” Padahal, sadness itu suatu perasaan sedih yang tidak berlangsung lama alias intensitasnya rendah, sedangkan grief adalah kesedihan yang berlarut-larut dan berkepanjangan. 

Contohnya, kalau saya kehilangan buku saya, saya bakal sedih, iya. Tapi rasa sedihnya tentu jauh lebih kecil dengan rasa sedih ketika saya kehilangan orang-orang yang saya sayangi. Yang contoh pertama itu sadness, yang contoh kedua grief. Kalau di bahasa Indonesia, saya ngga tahu deh, mungkin padanan yang cocok untuk grief adalah: merana, nestapa, atau muram durja. Kesan intensitas sedihnya terdengar lebih besar beberapa kali lipat.

Emosi juga ngga selalu berdiri sendiri, kadang mereka berkombinasi. Misalnya, perasaan marah dan sedih, senang dan sedih, sedih dan takut, dan lainnya. Kalau kamu pernah nonton film Inside Out pasti inget kan waktu si Joy (Emosi senang) dan Sadness (Emosi sedih) bekerja sama menghasilkan emosi sedih dan senang, yang berujung pada perasaan lega yang dialami Riley. 

Nah, untuk bisa menerimanya, tentu kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu, emosi apa sih yang memenuhi hati? Sebut namanya, jika perlu.

“Saya sedang sedih,”

“Saya marah,”

“Saya sedih dan takut,”

Bisa juga terjadi, kita mengalami emosi yang sangat kompleks, misalnya terdiri dari sebelas emosi sekaligus. Waduh banyak ya? Iya, bisa saja kan kita mengalami emosi sebanyak itu dalam waktu bersamaan. Bayangkan perasaan seseorang yang dikhianati oleh pasangannya. Dalam satu ‘wadah’ yang sama, dia bisa ngerasa sedih, marah, dendam, cemburu, kecewa, merasa dikhianati, merasa tidak berguna, merasa bersalah, jijik, benci dan cinta sekaligus. Sebanyak itu sampai sulit kalau disimpulkan menjadi satu jenis emosi saja. Walaupun, kita kadang menyebutnya dengan satu kalimat pendek: hatikuhancur! Kalau itu terjadi, cobalah untuk mengenalinya pelan-pelan. Tapi, poinnya adalah kita sadar bahwa kita tengah mengalami suatu perasaan yang negatif. Sadari saja dulu. Jangan menolak pakai alibi, “I’m okay.

You know what? It’s okay not to be okay, kok :)

2. Don’t feel bad for feeling something bad

Joy menganggap Sadness sering merusak suasana, sehingga ‘memaksa’ Sadness menjauhi papan kendali emosi. Joy yang dominan tak ingin Riley merasa sedih.

Setelah kita aware terhadap apa yang kita rasakan, biasanya logika kita mulai berkomentar macam-macam. Logika kita mulai membangun alasan-alasan, kenapa kita ngga seharusnya merasakan emosi-emosi itu.

Misalnya, ketika sedih, logika kita berkata, “Ih, kamu kok cengeng sih.. Gitu aja sedih. Kuat dong.”

Atau, ketika kita merasa cemburu sama orang lain, logika kita menilai bahwa kita seharusnya ngga merasa begitu, “Memalukan, masa seorang kamu cemburu sama hal seperti itu” dan berbagai penilaian lainnya yang mengarahkan kita untuk merasa buruk karena mengalami emosi yang buruk, alias feel bad for feeling bad. Kayak cerita saya di tulisan bagian pertama yang malu kalau cerita-cerita ke orang lain tentang masalah saya karena saya melihat orang lain hidupnya sangat positif (beda dunia) dan takut dianggap menebarkan negative vibes, merusak citra diri, dan sebagainya.

Nah, don’t do that. Don’t judge yourself. Don’t feel bad for feeling something bad. 

Itu semua normal banget kok dialami semua manusia. Kita semua adalah orang-orang yang pernah dipatahkan hatinya oleh kehidupan. Dan rasanya patah hati ya sakit. Hidup itu sulit, menurut perspektif negatif. Hidup itu menantang, menurut perspektif positif. Jadi, ngga perlu merasa malu atau merasa kalah karena mengalami perasaan negatif itu, even heroes have the right to bleed (kata lagunya Five For Fighting–Superman).

3. Be honest to your significant other

Riley akhirnya menyatakan perasaan sedihnya pada orang tuanya

Setelah di poin pertama kita jujur pada diri sendiri, di poin ini saya ingin bilang bahwa kita juga perlu lho jujur pada orang lain. Bukan ke orang asing juga sih, tapi ke orang-orang yang beneran care sama kita, orang-orang terdekat kita. Tahunya dia care darimana? Dari cara mereka bertanya. Ada juga kan yang bertanya, “Apa kabar?” sebagai basa-basi. Tapi ada juga kok yang bertanya begitu karena peduli. Yang ngga berhenti sampai kamu menjawab hal yang sejujurnya.

A: Kamu kenapa?

B: Ngga papa. Cuma sedih.

A: Mau cerita? Aku juga sebenarnya lagi sedih nih.

B: Lho, kamu sedih kenapa?

A: Karena ngeliat kamu sedih. Kalau kamu?

B: *nangis*

Ini penting banget sih menurutku. Kalau kita selalu tampil sok-sok kuat gitu, orang lain ngga bakal tahu kalau kita sebenarnya butuh bantuan. Kalau ngga ada yang peka sama kita, kita juga kan yang jadi merasa sedih dan sendirian, “Kok ngga ada yang bantuin sih. Ngga ada yang peduli sama aku.” Padahal kan itu mungkin bukan karena orang lain ngga peduli, tapi karena mereka belum tahu, karena kita belum membuka diri.

You will be helped


Umumnya, emosi itu muncul sebagai respon dari masalah yang kita hadapi. Misalnya, kita gagal lulus ujian, itu masalah utamanya. Nah, karena kegagalan itu, kita merasa sedih, sedihnya ini masalah emosi. Ada suatu keyakinan (atau bisa disebut teori juga mungkin), bahwa kalau kita mengalami masalah emosi ya berarti diperbaikinya juga pakai cara yang berlaku untuk emosi, bukan pakai cara logika. Sebaliknya, kalau masalahnya adalah masalah yang perlu penanganan logika, ya pakai logika, jangan pakai emosi.  Jadi jangan kebalik.

Kegagalan dalam ujian tentu saja harus ditangani pakai cara logika, ya belajar lagi, ikut remedial. Nah, tapi kalau soal emosi, ngga selalu bisa gitu. Ngga bisa serta merta kita ajak supaya tunduk dengan cara-cara logika, misalnya dengan kita buat rasionalisasi. Kalau emosi ya pakai cara emosi juga, misalnya dengan mengekspresikannya (tentu dengan ekspresi yang ngga berlebihan juga). Kalau sudah mengalir, baru kita gunakan rasionalisasi, misalnya, “Oke, aku pasti bisa menghadapi ini.”

Seringkali, masalah utamanya ngga terlalu sulit, tapi karena diiringi oleh masalah emosi yang besar, masalah utamanya jadi terasa besar. Saya juga ngalamin ini. Misalnya pas ngerjain skripsi. Sebenarnya saya yakin saya bisa menuliskan penelitian saya, ikut seminar hasil dan seterusnya, tapi ada masalah emosi yang mengiringinya dan karenanya ngerjain skripsi jadi beraat sekali. Pasti bukan saya aja yang ngalamin. Masalah emosinya bisa bermacam-macam kan, trauma sama dosennya, kesal sama peraturan yang ribet, cemas, dan banyak lagi.

Kalau gitu, masalah emosinya dulu yang diselesaikan. Kalau butuh terapi ke ahlinya, ya terapi. Kalau butuh teman, ya cari teman. Intinya, jangan biarkan emosi negatif itu jadi menguasai hidup kita. Oke kita menerima keberadaannya, kita menerima kenyataaan bahwa emosi negatif itu kita rasakan, tapi kendali tetap ada di tangan kita. Bukan berarti kita boleh membiarkan emosi negatif jadi mengambil hak pilih kita. Itu juga bahaya. 

Anggap emosi negatif itu cuaca dingin di pagi hari. Karena cuacanya dingin, bukan berarti kita jadi boleh bolos sekolah atau kerja kan. Kecuali ada badai salju, yang tentunya membahayakan. 

Kecuali kalau problem emosi kita sudah sangat parah dan kita ngga mampu melihat jalan keluarnya. Itu satu pertanda bahwa kita butuh bantuan orang lain. Ada ahli yang disebut psikolog dan psikiater yang bisa membantu.

Well, saya bukan ahli, semua tulisan ini murni mengalir dari pengalaman dan hasil baca-baca. Jadi mungkin banyak kelirunya juga. Kaget juga sih jadi banyak yang curhat. Saya juga bingung jawabnya gimana. Meski begitu, saya tahu bahwa dalam menghadapi suatu masalah, seringkali kita pertama-tama sekali perlu merasa bahwa kita ngga menghadapinya sendirian, bahwa ada juga kok yang mengalami masalah yang sama. Dan, ya, kamu ngga sendirian kok :)

urfa-qurrota-ainy

negative vibes part 1

urfa-qurrota-ainy

source

“To become a good swimmer, first you have to trust the wave.”

Saya pernah mengalami masa-masa yang sulit bagi emosi saya selama berbulan-bulan. Dan saya tidak ragu untuk mengakuinya di sini. I felt so depressed and anxious that I wanted to have a long sleep but too afraid to close my eyes. Tapi di saat lain, saya bisa tidur seharian meski setelah bangun tetap merasa lelah. I cried like a baby. A lot. Jantung saya berdebar kencang tiap kali melihat jam, kalender, atau kapanpun ketika saya merasakan waktu berlari, hari berganti, dan mati bisa datang kapan saja. Saya enggan melihat foto-foto masa lalu, kenangan-kenangan yang diingatkan Facebook, atau kenangan yang saya simpan dalam memori sendiri karena semua itu bikin saya sedih. Karena itu bikin saya merasa hidup saya sia-sia.

Tapi, saya juga tak mampu merencanakan apa yang harus saya lakukan esok pagi, dan esoknya, dan esoknya karena saya keburu cemas sebelum memikirkannya. Rasanya seperti terimpit di antara kandang naga dan medusa, bahkan lebih buruk karena keduanya hanya makhluk rekaan, meanwhile… my feelings were real.

Saya mengingat lagi pelajaran-pelajaran yang saya dapat tentang cara menenangkan diri, afirmasi positif, dan sebagainya. Berhasil….sebentar. Lalu mereka datang lagi.

Saya ngga bisa menjelaskan bagaimana semua ini bermula, kenapa saya merasakan hal-hal itu. rasanya ibarat tertimpa gunung yang longsor, runtuh begitu saja. 

Saya cerita ke pasangan, dan itu malah bikin saya malu, karena merasa hidup saya terlalu negatif dan ngga layak menyusahkan hidupnya yang positif. I spread negative vibes, and I felt guilty for that. Cerita ke orang lain apalagi. I would be a shame.

Di penghujung masa sulit itu, saya berubah. My heart was numb. saya ngga lagi punya ketertarikan pada hal-hal bertagar positive vibes, saya sangsi pada kata-kata bernuansa optimisme, saya alergi pada motivasi-motivasi positif, saya ngga bisa lagi menikmati ide-ide tentang pikiran positif, bahkan jika itu pernah keluar dari mulut atau tangan saya sendiri–dalam bentuk tulisan atau perkataan. saya alergi pada status, caption, bahkan sosok (maya maupun nyata) yang extremely positive. sesuatu yang saat itu saya anggap sebagai bagian dari Pollyanna syndrome: kecenderungan untuk terus menerus merasa optimis, senang, positif, tapi seringkali tidak realistis.

I lost my connection with positive poleI moved to negative pole. I lived there for weeks and met them: darkness, bad things, bad feelings, hatred, pessimism, depression, illness, and couple more things.

hal-hal yang sering dicampakkan. dianggap racun. dianggap sebagai penghalang kebahagiaan. dijauhkan dari anak-anak. diperkenalkan sebagai musuh bersama, tidak diterima, tak juga mendapat sekadar “Hello”.

poor negatron

dalam situasi yang demikian, saya merasakan empati yang luar biasa pada orang-orang di luar sana yang sedang mengalami ‘kekalahan’. mereka yang diasingkan karena berandal, mereka yang dihukum karena kriminal, mereka yang tak mendapat apa yang motivator janjikan: kemudahan hidup dan kebahagiaan sejati. sedangkan di sisi lainnya, orang-orang sibuk dengan ‘cahaya positifnya’ sendiri-sendiri, membangun menara ‘kesenangannya’ sendiri-sendiri, memoles ‘kemolekan’ dirinya sendiri-sendiri di media–yang seringkali palsu. apa artinya semua itu jika tak menjadikan kita lebih peduli?

hanya karena seseorang terlahir dari lingkungan buruk, dari keluarga yang pecah, dari pendidikan yang minim, dari kondisi keuangan yang melilit, or just simply mengalami nasib buruk dalam hidupnya, yang membuat hidupnya jauh dari jangkauan frekuensi positive vibes, yang membuat mereka berkawan dengan perjuangan yang keras, kesendirian, keperihan, depresi, pikiran negatif, bahkan keputusasaan, bukan berarti mereka kalah dan boleh ditinggalkan.

bad things happen to everyone, everyday, always. no requirement needed. no terms nor conditions applied. no algorithm can save anyone from it.

setelah itu, saya jadi berkawan dengan dunia di kutub negatif. melihat berbagai hal dari sudut negatifnya. saya merasakan negative vibes dalam diri saya.

apakah negative thinking itu selalu buruk? ternyata tidak juga. 

berpikir negatif sebenarnya kan unsur penting dalam proses antisipasi masalah yang akan terjadi. kalau polisi bisa mencegah perampokan atau mengungkap pelaku pembunuhan, itu juga karena peran pikiran negatif. 

tentu berpikir positif punya dampak baik terhadap kesejahteraan mental. tapi, terlalu ‘positif’ juga ternyata ngga selalu bagus. maksud saya, ya sudah, kita alamiah saja. hal buruk pasti terjadi, itu kenyataannya. kita ngga selamanya merasa happy, kita juga perlu merasa sedih, marah, jijik, takut. kita bakal kacau kalau menghindar dari pengalaman dan perasaan negatif. kita ngga bisa mengendalikan semua masalah. 

terlalu ‘positif’ yang ekstrem, justru bikin kita susah hidup dalam realita. berpikir positif malah bisa kontraproduktif kalau itu membuat kita menolak mengakui hal-hal yang menyakitkan dalam hidup yang tak bisa dihindari (akan dibahas lebih lanjut di tulisan bagian 2).

selain itu, terlalu berlebihan dalam menampilkan sisi positif atau terlalu berlebihan dalam usaha meyakinkan diri bahwa ‘hidup akan baik-baik saja selama saya berpikir positif’, bisa menimbulkan ekses yang ngga kita duga: mereka yang sedang merasa gagal dalam menggapai hidup yang baik-baik saja akan semakin terpuruk dan menyalahkan diri mereka sendiri karena tidak bisa tampil seceria dan sepositif itu. alih-alih menyebarkan positive vibes, yang tersebar bisa jadi malah vibes seputar kompetisi, seperti, “Look, I’m positive, I’m the inspirator, my life is fruitful, what about yours?”

sejujurnya, untuk orang-orang dengan self-esteem (penilaian tentang seberapa berharga diri sendiri) yang rendah, kalimat-kalimat sepositif apapun ngga bisa memperbaiki self-esteem mereka, malah bisa berbalik jadi bumerang buat mereka. itu malah bisa mengingatkan mereka soal kegagalan yang pernah mereka alami, berapa banyak tujuan yang tak tercapai, berapa banyak kekecewaan yang ia hadapi, dan berapa kali ia merasa dirinya tidak berharga.

tapi, yah. kita ngga punya kewajiban menyenangkan semua orang juga sih. menampilkan sisi positif yang berlebihan di media sosial maupun di hidup yang nyata adalah hak semua orang. perasaan iri, tertinggal, kalah, atau apapun namanya, yang dialami orang lain karena melihatnya bukan urusan kita lagi, toh kita kan ngga bermaksud bikin orang iri, ya? salah sendiri merasa iri dan tertinggal dan negatif dan terpuruk dan depresi dan putus asa. kita mah membangun menara ‘kesenangan’ kita sendiri-sendiri aja. hm, yang kalimat terakhir kayak pernah baca. di mana ya? de javu~

tulisan ini masih panjang, karena itu akan bersambung ke bagian 2: tentang cara pandang alternatif terhadap pengalaman dan emosi negatif juga terhadap negative vibes, tentang percaya pada ombak alih-alih memberontak dan tenggelam, dan tentang bagian akhir soal masa sulit yang saya ceritakan di awal tulisan.

bagian kedua sudah diunggah, silakan baca di sini.

urfa-qurrota-ainy

negative vibes part 2

urfa-qurrota-ainy

tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan Negative Vibes, supaya nyambung, silakan baca bagian pertamanya di sini

Poppy si pollyanna dan Branch si negativis dalam film Trolls (2016)
“Life is not only about  rainbow and cupcakes”- Branch

source 

dengan bantuan negative vibes alias bad vibes dalam diri saya, saya pun belajar memahami soal apa yang terjadi pada diri saya. kenapa saya mengalami masalah emosi yang begitu parah, kenapa saya merasa malu menceritakannya, kenapa saya merasa takut merusak hidup orang kalau saya ungkapkan ke orang lain, ke orang terdekat sekali pun. dan pikiran saya mengarah ke….

kecenderungan untuk sering menolak kejadian-kejadian negatif dan emosi negatif dan menutupinya karena merasa itu sebagai perusak suasana atau sekadar merasa gengsi, kayaknya jadi masalah bagi mayoritas orang di dunia ini. termasuk saya.

disadari atau tidak, kita sering diajari untuk terus merasa positif, sayangnya, tidak diimbangi dengan pemahaman yang benar. tentu merasa positif itu penting untuk kesejahteraan mental, tapi bukan berarti kita harus terus memaksa hidup kita dalam suasana positif, dan mengabaikan kejadian-kejadian susah dan menyakitkan yang nyata-nyata kita alami.

imbasnya, kita jadi sering lari dari kejadian-kejadian yang buruk karena itu menimbulkan emosi yang ngga kita sukai: sedih, marah, kecewa, cemas, dll, atau mengingatkan kita pada kejadian-kejadian buruk. kita juga terdorong untuk memanipulasi perasaan kita sendiri, bahwa kita baik-baik saja. media sosial juga mendorong kita untuk menampilkan sisi-sisi positif saja dalam hidup, menyembunyikan rapat-rapat apa yang menjadi kesedihan, kegelisahan, kemarahan, dan permasalahan lain yang kita alami dengan berbagai alasan. beberapa alasan yang sering saya dengar: saya lagi menguatkan diri sendiri, saya tidak ingin orang lain ikut merasa sedih, orang yang share hal negatif itu toxic! orang-orang lebih senang pada orang-orang yang menyebarkan positive vibes. 

kalau diperhatikan, memang orang-orang lebih menyukai konten di media sosial yang bernuansa positive vibes seperti foto makanan enak dan liburan alih-alih konten yang bernuansa negative vibes seperti kesusahan hidup yang dialami. jadi masuk akal kalau kita bekerja dengan hukum aksi reaksi. ngejar likes itu emang ngga penting, tapi kalau dapet banyak likes tetep aja seneng, ya ngga?

pemahaman bahwa negative vibes itu  toxic, bahwa pengalaman atau perasaan negatif yang kita alami adalah yang harus disembunyikan apakah karena gengsi atau takut memberi pengaruh buruk ke orang lain, bahwa kita hanya boleh menceritakan hal yang hepi-hepi aja, dalam perspektif saya saat ini (bukan saya di masa lalu), semua itu justru adalah pemahaman yang toxic. kita ngga bisa tumbuh kuat kalau pertama-tama kita ngga menerima perasaan dan pengalaman negatif itu atau malah menutup-nutupinya dengan sesuatu yang positif. kita ngga akan dapat pertolongan kalau kita ngga membiarkan orang tahu perasaan dan pengalaman negatif yang kita alami. menolak untuk mengakui adanya perasaan dan pengalaman negatif mungkin berguna untuk jangka pendek, tapi bisa menimbulkan efek destruktif untuk jangka panjangnya, misalnya gini (contoh aja):

saya merasa sedih karena ditinggal seseorang, tapi saya menolak untuk mengakuinya. saya menguatkan diri bahwa saya baik-baik saja. saya mencari hal lain di luar saya yang bisa membuat saya senang, yang menutupi kesedihan saya. lalu, saya menemukan caranya: belanja! tiap kali saya merasa sedih, saya belanja untuk tetap merasa senang. belanja menjadi pelarian dari perasaan sedih saya. dan itu berhasil. so far so good, untuk sementara. iya, sementara, karena jangka panjangnya, saya jadi kena adiksi alias kecanduan belanja. yang tentu menimbulkan efek ngga sehat untuk kesejahteraan saya sendiri. bayangkan kalau yang jadi candu bukan belanja: it could be alcohol or drugs! di masa depan, saya bakal dapet tambahan kesibukan untuk menyelesaikan masalah kecanduan saya, selain masalah emosi yang saya hindari sebelumnya.

pelarian dan adiksi yang paling umum kayaknya sih hape ya. bosen, bete, sedih, cek hp, cek timeline. kali aja ada notifikasi penting yang terlewatkan, kali aja ada postingan yang bikin mood bagus balik lagi. tapi, yang tadinya mau senang-senang, eh malah jadi makin parah karena ngelihat pesona orang lain yang hidupnya enak-enak aja. udah tahu gitu, anehnya, tetep aja dilakuin, tetep aja scrolling, tetep aja stalking. namanya juga udah kecanduan.

source

sebenarnya, menurut pengalaman dan pengamatan, kebiasaan menghindari atau ngga mau mengakui adanya pengalaman dan perasaan negatif, apapun alasannya, bisa menimbulkan dampak ini:

1. melahirkan lingkaran setan negativistik. kita lari dari kejadian-kejadian yang engga menyenangkan, ngga mengakui adanya perasaan negatif, tapi itu malah bikin situasi kita semakin negatif. karena kita jadi takut menghadapi kejadian-kejadian seperti itu, kita jadi cemas, hiper-waspada sama ‘ancaman’ itu, pikiran kita jadi susah tenang karena selalu takut pada apa yang akan terjadi. which is sama aja jadinya, kita lari dari pengalaman negatif yang satu, tapi malah menimbulkan pengalaman negatif lainnya. lari lagi, lari lagi, tapi tetap saja bertemu. ngga ke mana-mana.

2. di mana kita bisa hidup kalau bukan dalam realita? pengalaman buruk adalah hal yang alami yang dihadapi semua makhluk. ngga ada hidup yang sempurna, yang tanpa masalah. menolaknya berarti menolak hidup dalam realita. menolak keserasian dan keseimbangan alam semesta. alam semestanya tetap baik-baik saja, tapi kita engga.

3. bikin kita gagap dalam mengatasi masalah. kalau seseorang, apalagi  sedari kecil, terbiasa dijauhkan dari pengalaman sedih, kesal, jatuh, dsb, dia ngga punya memori otak dan memori otot untuk mengatasi permasalahannya di masa depan. akhirnya jadi terus menerus flight (menghindar), alih-alih fight (menghadapinya).

jadi harus bagaimana?

source

E M O S I pada dasarnya berfungsi untuk membantu kita mengevaluasi kejadian yang kita hadapi. emosi membuat kita tahu apa yang terjadi pada diri kita dan pada orang lain. singkatnya, emosi memberikan kita informasi. kalau kita merasakan emosi marah, artinya ada sesuatu yang ngga sesuai dengan keyakinan atau value kita, kalau kita merasakan emosi sedih, artinya ada sesuatu yang berjalan di luar rencana atau kehendak kita. dan seterusnya.  Begitu pun dengan pengalaman-pengalaman negatif yang kita alami, mereka itu sama-sama merupakan informasi. paling tidak, itu menunjukkan bahwa kita masih menjadi manusia, dan bagian terpentingnya: masih hidup.

lalu, pendekatan seperti apa yang bisa kita pakai agar bisa melihat emosi maupun pengalaman negatif itu secara wajar?

penerimaan yang disadari terhadap keduanya merupakan langkah awal yang tepat.

penerimaan di sini bermakna: kita bersedia untuk merasakan semua yang negatif itu, membiarkannya menggulung kita dalam pusarannya, mengenalinya, dan menyebut namanya. toh semua perasaan itu ngga abadi. perasaan yang kita hindari itu, kalau kita hadapi, ujungnya juga akan berlalu. 

dengan menerimanya, kita tidak perlu menghabiskan banyak tenaga untuk menutup-nutupi atau mengusir-usir perasaan itu. setelah itu, kita mulai bisa mempelajarinya: mengapa saya merasa begini, apa pencetusnya. sehingga di kemudian hari, ketika kita merasakan perasaan yang sama, kita bisa terbiasa. jika kita lari darinya, misalnya kita berusaha tetap senang dan ceria padahal kita baru saja mengalami kejadian menyedihkan, kita ngga sempat belajar. kita ngga bisa kan mempelajari sesuatu dengan menghindarinya.   

selain itu, keberanian kita untuk merasakan semua perasaan negatif itu akan membuat kita sadar bahwa merasakan hal negatif dalam hidup bukanlah sesuatu yang buruk atau memalukan. perasaan-perasaan itu ngga bikin seseorang jadi lemah atau buruk. it’s just, we are human and we are alive. we’re broken, life is broken. why? karena emang begitu desainnya.

hidup itu semangkuk penuh berisi ketidaksempurnaan. meski pun kelihatannya banyak, tetap saja tidak sempurna, tetap saja tidak memuaskan ego. kalau kata Allah di Surat Almaidah ayat 3, nih Allah sudah menyempurnakan nikmat-Nya untukmu. nah, tapi kita salah memahami maksud “menyempurnakan” nya itu. dikira kita kita bakal menjalani hidup yang sempurna karena udah dijamin, padahal engga gitu. dari pendekatan linguistik, ayat tersebut punya tafsir yang keren. 

untuk menyebutkan bagaimana Allah menyempurnakan nikmat-Nya buat hamba-Nya, digunakan kata “Atmamtu,” kalau diartikan ke bahasa Indonesia ya artinya menyempurnakan. tapi, dalam bahasa Arab Atmamtu itu maknanya: mengumpulkan beberapa hal yang tidak sempurna ke dalam satu wadah. jadi, kalau saya ngerasa kenapa saya ngga punya yang orang lain punya, itu karena ‘mangkuk’ yang dikasih Allah ke saya emang beda isinya. mungkin ada yang dikasih kesehatan paripurna, tapi ngga dikasih kekayaan berlimpah. ada juga yang dikasih kekayaan, tapi juga sakit-sakitan. karena yang Allah kasih ke mangkuk kita itu ya memang hal-hal yang tidak sempurna. tapi Allah kumpulkan jadi satu sehingga menjadi komplit. tapi, untuk menyebut bagaimana Allah menyempurnakan agama sebagai petunjuk buat kita, Allah menggunakan kata “Akmaltu.” yang maknanya: mengumpulkan beberapa hal yang sempurna ke dalam satu wadah. kesimpulannya silakan dicerap sendiri..

jadi kalau ngerasa broken, dapet pengalaman yang ngga menyenangkan, itu memang karena desainnya gitu. dan karena memang desainnya demikian, kenapa harus dihindari atau dianggap memalukan? it’s something normal, dude.

yang terakhir, ketika kita menerimanya dengan lapang dada, tanpa perlawanan atau penolakan, perasaan dan pengalaman negatif itu akan kehilangan dayanya untuk mengacaukan hidup kita. bagaimana bisa? maksudnya menyerah? bukan menyerah, tapi berserah. 

You cannot beat a river into submission.  You surrender to it…” - The Ancient One (Dr Strange, 2016)

source

seorang perenang yang terjebak di arus bawah laut dan merasa bahwa ia akan terseret ke tengah laut seringkali panik sehingga ia berenang melawan arus ombak dengan semua kekuatannya.dan seringkali juga, jika itu terjadi, ia akan tenggelam karena kelelahan dan kehabisan energi. tapi ada juga perenang lain yang melakukan hal sebaliknya. menenangkan diri, dan membiarkan sang ombak membawanya ke laut. kemudian tak lama, ketika arus mulai melemah, sang perenang bisa berenang kembali ke pantai.

sama halnya dengan emosi yang kita alami: melawannya bisa membahayakan, tapi ketika kita menerimanya, ia akan berjalan dan akhirnya pun berlalu dengan sendirinya, kemudian kita mendapatkan kesempatan untuk juga melanjutkan perjalanan kita.


tulisan ini akan saya tutup dengan kisah akhir dari pengalaman negatif yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya.

saya ngga merasa menyesal telah mengalami pengalaman dan perasaan yang intensitas negatifnya besar seperti itu. tapi, saya menyesal karena dulu sekali, saya terlalu sering menutup-nutupi bahkan menolak perasaan negatif, menganggap itu harus disimpan sendiri, menganggap itu akan tergantikan dengan perasaan senang secara otomatis, menganggap sebuah kehinaan untuk mengakui bahwa saya stres, cemas, depresi, dan sebagainya, karena orang lain hidupnya terlihat baik-baik saja. menurut saya, itulah penyebab kenapa gunungan perasaan negatif itu tiba-tiba longsor menimpa saya: karena terlalu lama ditolak keberadaannya. mereka kembali dalam bentuk yang lebih buruk! 

mungkin masalahnya, tipikal, saat kecil kurang diberi ruang untuk mengeksplorasi berbagai emosi. dijauhkan dari negative vibes, disuruh untuk berhenti menangis sebelum merasa lega, diminta untuk jadi anak penurut sebelum diberi ruang untuk kesal, marah, dan protes. tapi ya sudahlah, kita juga paham jadi orang tua itu ngga mudah. yang penting saat ini saya sudah lebih paham.

saya belajar untuk biasa saja mengakui bahwa hidup saya lagi ada masalah. bahwa saya sedih, marah, kecewa. sebagaimana saya belajar untuk biasa-biasa aja ketika merasa senang–ngga berlebihan. tidak menganaktirikan salah satunya. 

saya menyukai bagaimana positive vibes membuat kita menjadi bersemangat dan optiimis, dan saya juga menyukai bagaimana negative vibes membuat kita lebih menapak tanah: realistis melihat suatu permasalahan dan membuat kita seutuhnya menjadi manusia. I love them both <3

kolom ‘Reply’ terbuka untuk diskusi dan sharing

Sebenernyaa aku pernah nunggu lebih dari ini, tapi kek udah ga mood aja tadi.
Dalam keadaan ngantuk berat, setengah 8 udah di garut ya biar bisa gitu sempet main agak bebas sama kalian. Wkwk tapi nyatanya, ampe jam 8 blm jelas berangkat jam berapa. Lalu udah jam 9 dan menuju jam sepuluh, abah ngajak main. Akhirnya kuiyakan saja. Eh kalian malah ke rumah, akhirnya ya aku bilang kayaknya ga jadi ikut abah. Trus tetiba kalian bilang sama keluarga aja we. Dan aku cari aman aja ngikutin apa yg mereka bilang. Karena kalaupun aku ikut, bisa jadi sepanjang jalan, sepanjang main udah ga mood. Dan akan bikin kalian badmood juga :)
Maaf ya mentemen..

Pernah ngerasa salah curhat gak? Entah salah karena orang yg dicurhatin, entah isi curhatan kitanya. Begitulah. Kadang bahkan seringkali aku ngerasa banyak hal-hal yg harusnya cukup jadi konsumsi pribadi atau diceritakan pada orang-orang yg benar-benar ingin mendengarkan kita..
Semoga mampu menahan diri untuk curhat hal-hal yg gak bermanfaat. Dan mampu memilah dan memilih pendengar yang baik. Dan belajar jadi pendengar yang baik pula :)

  • A : kamu mau sampai kapan disini?
  • B : apa aku harus terus berjalan?
  • A : boleh beristirahat, tapi bukan begini. dan bukan disini.
  • B : lalu?
  • A : kamu tau disana (menunjuk suatu tempat)ya, disana jika kau memang butuh istirahat. bukan disini, bukan. Kau masih harus berjuang disini bukan diam atau seperti kau bilang beristirahat. cari hal lain yang bisa memulihkan mu sambil tetap berjalan.
  • B : baiklah, doakan aku ya.
random

pada akhirnya kau harus berjuang sendirian.

merasa ditinggalkan? tak apa, wajar.

tapi belajarlah dari kejadian ini, bahwa hanya Allah tempat bergantung kita, bukan dia, bahkan orang yang kau rasa akan bisa membantumu disaat seperti ini.

cara terbaik menghadapi ini adalah ikhlas, bahwa ini sudah menjadi bagian kita. dan berjuang serta berdoa, semoga segera terlewati :)

kurniawangunadi

Mempersilakan Dunia Mengetahui

kurniawangunadi

Terbukalah pada dunia tentang dirimu. Saat kau cemas, jangan tutup kecemasanmu. Saat kau terluka, jangan berpura-pura bahagia. Saat kau sedang hancur, tidak perlu menutupinya seolah-olah segalanya baik-baik saja.

Dunia ini sudah cukup penuh oleh orang-orang yang sibuk memanipulasi dirinya. Menampilkan diri yang tidak sebenarnya, berbohong tidak hanya kepada diri sendiri, melainkan juga alam semesta.

Barangkali, inilah bagian terberatnya. Menerima keadaan diri, jujur pada orang lain, bagian itu adalah bagian yang seringkali mengusik dirimu. Sesudah keadaanmu selama ini. Tapi justru, disitulah kamu akan menemukan orang-orang yang tulus menerimamu, mendampinginmu sebisa mereka, juga menjadi orang-orang pertama yang hadir untukmu.

Tidak perlu berpura-pura bahwa segala baik-baik saja, masalah tidak akan pernah selesai dengan kepura-puraan. Jika tak mampu menghadapinya sendiri, mintalah bantuan.

Dari sana, kita akan belajar untuk berempati. Belajar untuk menerima kekurangan orang lain, bersedia membantu masalah mereka, memahami kekurangan-kekurangannya, meredakan kecemasannya, sampai pada bersedia menemaninya membangun dirinya yang hancur.

Sudah cukup rasanya untuk sibuk memikirkan diri sendiri, sudah cukup rasanya untuk merasa diri ini selalu hebat. Sudah cukup juga untuk berpura-pura bahagia. Biarkan dunia tahu keadaanmu :)

©kurniawangunadi

jangantumpah

:’)