‘How To’ Accept Negative Emotions

semua gambar yang disertakan di sini ditemukan dari Google, cuplikan dari film Inside Out (2015). Credit to Disney. Ini karena film Inside Out bagus banget untuk menggambarkan penerimaan terhadap emosi negatif
Beberapa hari kemarin, saya ngepost
tulisan berjudul Negative Vibes yang terbagi menjadi bagian satu dan bagian dua saking panjangnya. Terus terang, nulisnya ngga
pake outline atau rencana, tau-tau sebanyak itu. Karena merasa tulisannya udah
kepanjangan, yaudin jadinya kemarin menyetop jari sendiri. Lalu dipikir-pikir,
kayaknya walaupun udah panjang-panjang tetep masih kurang deh. Haha. Yauds lah
ya, ini kan blog pribadi. Tulisan ini bisa disebut sebagai bagian ketiganya. Mungkin nanti bakal ada lanjutan-lanjutannya, semacam tulisan yang terkait satu sama lain.
Oke, jadi, sebenarnya yang saya tuliskan di bawah sudah saya sisipkan juga di tulisan Negative Vibes, tetapi, ini versi panjangnya aja. Karena, ada beberapa pertanyaan bernada, “Bagaimana cara menerima negative vibes dalam diri kita?”
Saya paham betapa sulitnya memulai sesuatu, betapa kakunya untuk mengubah suatu kebiasaan yang sudah lama mendarah daging. Saya juga masih belajar untuk menerima negative vibes yang saya alami.
Dari sedikit pengalaman ini, saya merasa ada tiga hal penting yang harus dilakukan saat kita berusaha menerima negative vibes, atau dalam konteks ini, lebih spesifiknya adalah menerima negative emotion yang kita alami.
1. Call its name

Lima emosi dasar manusia: Senang, sedih, takut, marah, dan jijik
Kenali emosi yang mengisi hati kita. Ada banyak sekali jenis emosi, tapi emosi dasar ada lima: senang, sedih, marah, jijik, dan takut. Emosi lainnya tentu masih ada, misalnya emosi tenang, murka, stres, merasa bersalah, malu, kaget, tertarik, cinta, benci, kagum, kasihan, dan lain-lain. Bahkan, dalam sebuah studi di University of California, C Berkeley terungkapkan bahwa ada 27 jenis emosi yang berbeda-beda yang bisa kita alami.. Kadang bedanya tipis sih, jadi mungkin susah juga ngebedainnya.
Terbatasnya kosakata yang biasa kita pakai untuk mengungkapkan perasaaan kita juga bisa bikin kita bingung membedakannya. Misalnya, antara sadness dan grief. Kalau diterjemahkan secara sederhana, keduanya berarti “Sedih.” Padahal, sadness itu suatu perasaan sedih yang tidak berlangsung lama alias intensitasnya rendah, sedangkan grief adalah kesedihan yang berlarut-larut dan berkepanjangan.
Contohnya, kalau saya kehilangan buku saya, saya bakal sedih, iya. Tapi rasa sedihnya tentu jauh lebih kecil dengan rasa sedih ketika saya kehilangan orang-orang yang saya sayangi. Yang contoh pertama itu sadness, yang contoh kedua grief. Kalau di bahasa Indonesia, saya ngga tahu deh, mungkin padanan yang cocok untuk grief adalah: merana, nestapa, atau muram durja. Kesan intensitas sedihnya terdengar lebih besar beberapa kali lipat.
Emosi juga ngga selalu berdiri sendiri, kadang mereka berkombinasi. Misalnya, perasaan marah dan sedih, senang dan sedih, sedih dan takut, dan lainnya. Kalau kamu pernah nonton film Inside Out pasti inget kan waktu si Joy (Emosi senang) dan Sadness (Emosi sedih) bekerja sama menghasilkan emosi sedih dan senang, yang berujung pada perasaan lega yang dialami Riley.
Nah, untuk bisa menerimanya, tentu kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu, emosi apa sih yang memenuhi hati? Sebut namanya, jika perlu.
“Saya sedang sedih,”
“Saya marah,”
“Saya sedih dan takut,”
Bisa juga terjadi, kita mengalami emosi yang sangat kompleks, misalnya terdiri dari sebelas emosi sekaligus. Waduh banyak ya? Iya, bisa saja kan kita mengalami emosi sebanyak itu dalam waktu bersamaan. Bayangkan perasaan seseorang yang dikhianati oleh pasangannya. Dalam satu ‘wadah’ yang sama, dia bisa ngerasa sedih, marah, dendam, cemburu, kecewa, merasa dikhianati, merasa tidak berguna, merasa bersalah, jijik, benci dan cinta sekaligus. Sebanyak itu sampai sulit kalau disimpulkan menjadi satu jenis emosi saja. Walaupun, kita kadang menyebutnya dengan satu kalimat pendek: hatikuhancur! Kalau itu terjadi, cobalah untuk mengenalinya pelan-pelan. Tapi, poinnya adalah kita sadar bahwa kita tengah mengalami suatu perasaan yang negatif. Sadari saja dulu. Jangan menolak pakai alibi, “I’m okay.”
You know what? It’s okay not to be okay, kok :)
2. Don’t feel bad for feeling something bad

Joy menganggap Sadness sering merusak suasana, sehingga ‘memaksa’ Sadness menjauhi papan kendali emosi. Joy yang dominan tak ingin Riley merasa sedih.
Setelah kita aware terhadap apa yang kita rasakan, biasanya logika kita mulai berkomentar macam-macam. Logika kita mulai membangun alasan-alasan, kenapa kita ngga seharusnya merasakan emosi-emosi itu.
Misalnya, ketika sedih, logika kita berkata, “Ih, kamu kok cengeng sih.. Gitu aja sedih. Kuat dong.”
Atau, ketika kita merasa cemburu sama orang lain, logika kita menilai bahwa kita seharusnya ngga merasa begitu, “Memalukan, masa seorang kamu cemburu sama hal seperti itu” dan berbagai penilaian lainnya yang mengarahkan kita untuk merasa buruk karena mengalami emosi yang buruk, alias feel bad for feeling bad. Kayak cerita saya di tulisan bagian pertama yang malu kalau cerita-cerita ke orang lain tentang masalah saya karena saya melihat orang lain hidupnya sangat positif (beda dunia) dan takut dianggap menebarkan negative vibes, merusak citra diri, dan sebagainya.
Nah, don’t do that. Don’t judge yourself. Don’t feel bad for feeling something bad.
Itu semua normal banget kok dialami semua manusia. Kita semua adalah orang-orang yang pernah dipatahkan hatinya oleh kehidupan. Dan rasanya patah hati ya sakit. Hidup itu sulit, menurut perspektif negatif. Hidup itu menantang, menurut perspektif positif. Jadi, ngga perlu merasa malu atau merasa kalah karena mengalami perasaan negatif itu, even heroes have the right to bleed (kata lagunya Five For Fighting–Superman).
3. Be honest to your significant other

Riley akhirnya menyatakan perasaan sedihnya pada orang tuanya
Setelah di poin
pertama kita jujur pada diri sendiri, di poin ini saya ingin bilang bahwa kita
juga perlu lho jujur pada orang lain. Bukan ke orang asing juga sih, tapi ke
orang-orang yang beneran care sama kita, orang-orang terdekat kita. Tahunya dia care darimana?
Dari cara mereka bertanya. Ada juga kan yang bertanya, “Apa kabar?” sebagai
basa-basi. Tapi ada juga kok yang bertanya begitu karena peduli. Yang ngga
berhenti sampai kamu menjawab hal yang sejujurnya.
A: Kamu kenapa?
B: Ngga papa. Cuma sedih.
A: Mau cerita? Aku juga sebenarnya lagi sedih nih.
B: Lho, kamu sedih kenapa?
A: Karena ngeliat kamu sedih. Kalau kamu?
B: *nangis*
Ini penting banget sih menurutku. Kalau kita selalu tampil sok-sok kuat gitu, orang lain ngga bakal tahu kalau kita sebenarnya butuh bantuan. Kalau ngga ada yang peka sama kita, kita juga kan yang jadi merasa sedih dan sendirian, “Kok ngga ada yang bantuin sih. Ngga ada yang peduli sama aku.” Padahal kan itu mungkin bukan karena orang lain ngga peduli, tapi karena mereka belum tahu, karena kita belum membuka diri.

You will be helped
Umumnya, emosi itu muncul sebagai respon dari masalah yang kita hadapi. Misalnya, kita gagal lulus ujian, itu masalah utamanya. Nah, karena kegagalan itu, kita merasa sedih, sedihnya ini masalah emosi. Ada suatu keyakinan (atau bisa disebut teori juga mungkin), bahwa kalau kita mengalami masalah emosi ya berarti diperbaikinya juga pakai cara yang berlaku untuk emosi, bukan pakai cara logika. Sebaliknya, kalau masalahnya adalah masalah yang perlu penanganan logika, ya pakai logika, jangan pakai emosi. Jadi jangan kebalik.
Kegagalan dalam ujian tentu saja harus ditangani pakai cara logika, ya belajar lagi, ikut remedial. Nah, tapi kalau soal emosi, ngga selalu bisa gitu. Ngga bisa serta merta kita ajak supaya tunduk dengan cara-cara logika, misalnya dengan kita buat rasionalisasi. Kalau emosi ya pakai cara emosi juga, misalnya dengan mengekspresikannya (tentu dengan ekspresi yang ngga berlebihan juga). Kalau sudah mengalir, baru kita gunakan rasionalisasi, misalnya, “Oke, aku pasti bisa menghadapi ini.”
Seringkali, masalah utamanya ngga terlalu sulit, tapi karena diiringi oleh masalah emosi yang besar, masalah utamanya jadi terasa besar. Saya juga ngalamin ini. Misalnya pas ngerjain skripsi. Sebenarnya saya yakin saya bisa menuliskan penelitian saya, ikut seminar hasil dan seterusnya, tapi ada masalah emosi yang mengiringinya dan karenanya ngerjain skripsi jadi beraat sekali. Pasti bukan saya aja yang ngalamin. Masalah emosinya bisa bermacam-macam kan, trauma sama dosennya, kesal sama peraturan yang ribet, cemas, dan banyak lagi.
Kalau gitu, masalah emosinya dulu yang diselesaikan. Kalau butuh terapi ke ahlinya, ya terapi. Kalau butuh teman, ya cari teman. Intinya, jangan biarkan emosi negatif itu jadi menguasai hidup kita. Oke kita menerima keberadaannya, kita menerima kenyataaan bahwa emosi negatif itu kita rasakan, tapi kendali tetap ada di tangan kita. Bukan berarti kita boleh membiarkan emosi negatif jadi mengambil hak pilih kita. Itu juga bahaya.
Anggap emosi negatif itu cuaca dingin di pagi hari. Karena cuacanya dingin, bukan berarti kita jadi boleh bolos sekolah atau kerja kan. Kecuali ada badai salju, yang tentunya membahayakan.
Kecuali kalau problem emosi kita sudah sangat
parah dan kita ngga mampu melihat jalan keluarnya. Itu satu pertanda bahwa kita
butuh bantuan orang lain. Ada ahli yang disebut psikolog dan psikiater yang
bisa membantu.
Well, saya bukan ahli, semua tulisan ini murni mengalir dari
pengalaman dan hasil baca-baca. Jadi mungkin banyak kelirunya juga. Kaget juga sih jadi banyak yang curhat. Saya juga bingung jawabnya gimana. Meski begitu,
saya tahu bahwa dalam menghadapi suatu masalah, seringkali kita pertama-tama sekali perlu
merasa bahwa kita ngga menghadapinya sendirian, bahwa ada juga kok yang
mengalami masalah yang sama. Dan, ya, kamu ngga sendirian kok :)






