negative vibes part 1

“To become a good swimmer, first you have to trust the wave.”
Saya pernah mengalami masa-masa yang sulit bagi emosi saya selama berbulan-bulan. Dan saya tidak ragu untuk mengakuinya di sini. I felt so depressed and anxious that I wanted to have a long sleep but too afraid to close my eyes. Tapi di saat lain, saya bisa tidur seharian meski setelah bangun tetap merasa lelah. I cried like a baby. A lot. Jantung saya berdebar kencang tiap kali melihat jam, kalender, atau kapanpun ketika saya merasakan waktu berlari, hari berganti, dan mati bisa datang kapan saja. Saya enggan melihat foto-foto masa lalu, kenangan-kenangan yang diingatkan Facebook, atau kenangan yang saya simpan dalam memori sendiri karena semua itu bikin saya sedih. Karena itu bikin saya merasa hidup saya sia-sia.
Tapi, saya juga tak mampu merencanakan apa yang harus saya lakukan esok pagi, dan esoknya, dan esoknya karena saya keburu cemas sebelum memikirkannya. Rasanya seperti terimpit di antara kandang naga dan medusa, bahkan lebih buruk karena keduanya hanya makhluk rekaan, meanwhile… my feelings were real.
Saya mengingat lagi pelajaran-pelajaran yang saya dapat tentang cara menenangkan diri, afirmasi positif, dan sebagainya. Berhasil….sebentar. Lalu mereka datang lagi.
Saya ngga bisa menjelaskan bagaimana semua ini bermula, kenapa saya merasakan hal-hal itu. rasanya ibarat tertimpa gunung yang longsor, runtuh begitu saja.
Saya cerita ke pasangan, dan itu malah bikin saya malu, karena merasa hidup saya terlalu negatif dan ngga layak menyusahkan hidupnya yang positif. I spread negative vibes, and I felt guilty for that. Cerita ke orang lain apalagi. I would be a shame.
Di penghujung masa sulit itu, saya berubah. My heart was numb. saya ngga lagi punya ketertarikan pada hal-hal bertagar positive vibes, saya sangsi pada kata-kata bernuansa optimisme, saya alergi pada motivasi-motivasi positif, saya ngga bisa lagi menikmati ide-ide tentang pikiran positif, bahkan jika itu pernah keluar dari mulut atau tangan saya sendiri–dalam bentuk tulisan atau perkataan. saya alergi pada status, caption, bahkan sosok (maya maupun nyata) yang extremely positive. sesuatu yang saat itu saya anggap sebagai bagian dari Pollyanna syndrome: kecenderungan untuk terus menerus merasa optimis, senang, positif, tapi seringkali tidak realistis.
I lost my connection with positive pole. I moved to negative pole. I lived there for weeks and met them: darkness, bad things, bad feelings, hatred, pessimism, depression, illness, and couple more things.
hal-hal yang sering dicampakkan. dianggap racun. dianggap sebagai penghalang kebahagiaan. dijauhkan dari anak-anak. diperkenalkan sebagai musuh bersama, tidak diterima, tak juga mendapat sekadar “Hello”.

poor negatron
dalam situasi yang demikian, saya merasakan empati yang luar biasa pada orang-orang di luar sana yang sedang mengalami ‘kekalahan’. mereka yang diasingkan karena berandal, mereka yang dihukum karena kriminal, mereka yang tak mendapat apa yang motivator janjikan: kemudahan hidup dan kebahagiaan sejati. sedangkan di sisi lainnya, orang-orang sibuk dengan ‘cahaya positifnya’ sendiri-sendiri, membangun menara ‘kesenangannya’ sendiri-sendiri, memoles ‘kemolekan’ dirinya sendiri-sendiri di media–yang seringkali palsu. apa artinya semua itu jika tak menjadikan kita lebih peduli?
hanya karena seseorang terlahir dari lingkungan buruk, dari keluarga yang pecah, dari pendidikan yang minim, dari kondisi keuangan yang melilit, or just simply mengalami nasib buruk dalam hidupnya, yang membuat hidupnya jauh dari jangkauan frekuensi positive vibes, yang membuat mereka berkawan dengan perjuangan yang keras, kesendirian, keperihan, depresi, pikiran negatif, bahkan keputusasaan, bukan berarti mereka kalah dan boleh ditinggalkan.
bad things happen to everyone, everyday, always. no requirement needed. no terms nor conditions applied. no algorithm can save anyone from it.
setelah itu, saya jadi berkawan dengan dunia di kutub negatif. melihat berbagai hal dari sudut negatifnya. saya merasakan negative vibes dalam diri saya.
apakah negative thinking itu selalu buruk? ternyata tidak juga.
berpikir negatif sebenarnya kan unsur penting dalam proses antisipasi masalah yang akan terjadi. kalau polisi bisa mencegah perampokan atau mengungkap pelaku pembunuhan, itu juga karena peran pikiran negatif.
tentu berpikir positif punya dampak baik terhadap kesejahteraan mental. tapi, terlalu ‘positif’ juga ternyata ngga selalu bagus. maksud saya, ya sudah, kita alamiah saja. hal buruk pasti terjadi, itu kenyataannya. kita ngga selamanya merasa happy, kita juga perlu merasa sedih, marah, jijik, takut. kita bakal kacau kalau menghindar dari pengalaman dan perasaan negatif. kita ngga bisa mengendalikan semua masalah.
terlalu ‘positif’ yang ekstrem, justru bikin kita susah hidup dalam realita. berpikir positif malah bisa kontraproduktif kalau itu membuat kita menolak mengakui hal-hal yang menyakitkan dalam hidup yang tak bisa dihindari (akan dibahas lebih lanjut di tulisan bagian 2).
selain itu, terlalu berlebihan dalam menampilkan sisi positif atau terlalu berlebihan dalam usaha meyakinkan diri bahwa ‘hidup akan baik-baik saja selama saya berpikir positif’, bisa menimbulkan ekses yang ngga kita duga: mereka yang sedang merasa gagal dalam menggapai hidup yang baik-baik saja akan semakin terpuruk dan menyalahkan diri mereka sendiri karena tidak bisa tampil seceria dan sepositif itu. alih-alih menyebarkan positive vibes, yang tersebar bisa jadi malah vibes seputar kompetisi, seperti, “Look, I’m positive, I’m the inspirator, my life is fruitful, what about yours?”
sejujurnya, untuk orang-orang dengan self-esteem (penilaian tentang seberapa berharga diri sendiri) yang rendah, kalimat-kalimat sepositif apapun ngga bisa memperbaiki self-esteem mereka, malah bisa berbalik jadi bumerang buat mereka. itu malah bisa mengingatkan mereka soal kegagalan yang pernah mereka alami, berapa banyak tujuan yang tak tercapai, berapa banyak kekecewaan yang ia hadapi, dan berapa kali ia merasa dirinya tidak berharga.
tapi, yah. kita ngga punya kewajiban menyenangkan semua orang juga sih. menampilkan sisi positif yang berlebihan di media sosial maupun di hidup yang nyata adalah hak semua orang. perasaan iri, tertinggal, kalah, atau apapun namanya, yang dialami orang lain karena melihatnya bukan urusan kita lagi, toh kita kan ngga bermaksud bikin orang iri, ya? salah sendiri merasa iri dan tertinggal dan negatif dan terpuruk dan depresi dan putus asa. kita mah membangun menara ‘kesenangan’ kita sendiri-sendiri aja. hm, yang kalimat terakhir kayak pernah baca. di mana ya? de javu~
tulisan ini masih panjang, karena itu akan bersambung ke bagian 2: tentang cara pandang alternatif terhadap pengalaman dan emosi negatif juga terhadap negative vibes, tentang percaya pada ombak alih-alih memberontak dan tenggelam, dan tentang bagian akhir soal masa sulit yang saya ceritakan di awal tulisan.
bagian kedua sudah diunggah, silakan baca di sini.









